Akhirnya, aku bisa merasakan lagi bagaimana mencintamu tanpa lisan
Dalam luka.
Itu saja.
July 13, 2013
April 19, 2013
rumah kelak
Kemarin aku bertanya keras tentang rumah. Dimana harusnya ia berada. Kemana seharusnya aku pulang. Dan seperti apa seharunya rumah yang nyaman dan layak lengkap dengan kehangatannya untukku.
Beberapa mereka suka tinggal di rumah yg bertingkat, supaya banyak kamar tidur jika mereka kelak memiliki banyak buah hati. Beberapa lainnya suka yg halamannya luas, supaya anak-anaknya punya tempat bermain, gak melulu ke tempat bermain sempit di banyak pusat perbelanjaan. Sedang yang lain masih bingung dan berdebat sendiri rumah seperti apa yg menjadi rancangan terbaik untuk kehidupan kelak.
Catatanmu yang aku intip pagi tadi cukup bikin aku senyum-senyum sendiri. Bukan bahagia, tapi merasa lucu. Lalu aku sangat lega menertawakan kebodohanku dan matinya logikaku kemarin-kemarin.
Harusnya rumah tidak dicari. Tidak ditinggalkan kalau kita tidak nyaman. Tidak mencari yang baru untuk memastikan hidup kita akan terus nyaman ke depannya. Memilih yang hangat agar kita betah berlama-lama di dalamnya.
Harusnya bukan salah satu mencari rumah atau keduanya saling mencari. Bukan salah satu pemilik rumah, sedang yang lainnya hanya ngontrak. Kemudian berlaku pemilik rumah bisa mengusir karena yang ngontrak kurang ajar, atau yang ngontrak meninggalkan rumah sebelum masa kontrak habis karena rumahnya tak lagi nyaman.
Kalau aku kemarin cukup cerdas dan percaya logikaku untuk beraksi, aku mungkin tak akan kesasar sejauh ini.
Rumah itu dibangun, berdua. Dengan pondasi sekuat komitmen, dan tinggi rumah setinggi menggantungkan angan kehidupan supaya jauh lebih baik. Luasnya seluas maaf yang selalu kita junjung.
March 25, 2013
mencumbu nostalgia
menemukanmu berantakan diantara ruas-ruas serat cendana
bahkan di kayu sekuat itupun kamu masih saja merapuh
seperti aku ingin menggenggam huruf-hurufku layaknya kelopak kembang
kemudian menaburkannya ke tanahmu
matilah kamu, tertanam di masa lalu
melena pada nostalgia yang mereka kira selalu sumringah
lalu dentingnya terhenti di detak jantung yang sama
seakan tak terima pada hurufku yang belum juga menemui titik
pulanglah
rumahmu menyuguhkan banyak kehangatan juga kenangan
yang kita makan hingga tak ada remukan
kalau kamu bertemu senja, jangan berhenti jalan aja terus
atau kamu akan menemui nostalgiamu tergerus
karena senja selalu jadi jagoannya
memandu asmara, membelokkan arah
memang nostalgia menawarkan kuatnya harum tubuhmu (yang sama)
tapi kalau hati ikut beradu dia hanya bisa diam terpaku
maka hendaknya kau jadikan dia agar terpadu
supaya nostalgiamu berikan satu ciuman sendu
satu di hati
satu di logika
bangun!
nostalgiamu tak sesyahdu apa yang digambarkan hatimu.
Subscribe to:
Posts (Atom)