December 17, 2012

Cukupkan dengan harap

Malam tadi malaikat mampir di atas kelambuku. 
Ya, dia membawa serta catatannya untuk dipamerkan. Mungkin batinnya aku akan menanyakan telah seberapa bagus dia mencatat aku. 
Sempat aku hampir keceplosan untuk menanya kita.
Namun lagi-lagi kamu membuat aku sesak tentang aku.
Biar aku selesaikan dulu urusan mendebarkasikan harap.
Semoga malaikat tidak mencatatat seberapa besar harap yang kamu punya.
Karena sampai saat pagi mendesah lembut di balik telinga, aku masih percaya akan harapan.
Entah apakah itu masih kau simpan rapat atau telah dinikmati debu-debu kamarmu sebagai dongengnya karena ia telah mengusang.
Itulah mengapa malam selalu rutin membuka jendelanya agar malaikat bisa menyisip dalam lengahku.

Kalaupun ia mencatatat, semoga ia tak berniat untuk membocorkan rahasia itu ke aku.
Percaya masih menjadi satu kata yg terucap dengan artikulasi cukup jelas.
Meskipun dengan notasi yang kembang kempis sama seperti saat aku mencari-cari kemana harapanku.
Dan sampai pagi datangpun, harapan masih juga menjadi tumit dimana percayaku berinjak.

December 4, 2012

Menunggu malam

Pagi mengajakku berbincang di balkon kecil rumahku.
Ia bercerita banyak. Hingga akhirnya ........
"Lalu, apa kabar tentang belajar berbesar hatimu?," celetuknya tanpa menggubris sedang apa lukaku saat ini karena ucapannya.
Aku pernah lupa bahwa aku harus belajar berbesar hati.
Sempat aku bersemangat, namun semangatku tiba-tiba mengarang, terbakar, dan terbang menjadi abu sombong yg bahkan sempat lewat di pipi.
Aku pernah sombong dengan tekadku untuk berbesar hati.
Tapi badut-badut itu selalu mampir ke balkonku untuk bercerita 'aku-dia'
Aku pernah kuat berdiri menginjak tekad di bawah telapak
Selalu ada yg melemaskan tungkakku.

Karena selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) di setiap sentimeter aku beranjak.
Cangkir kopinya yg masih terpajang rapi bersebelahan dgn milikku.
Tali sepatunya yg lepas sebelah dan menyelip di bawah meja televisi.
Atau mungkin jaket kulitnya yg masih tergeletak di kursi makan.
Setelah kita berkecamuk dgn marah malam itu, aku tidak membereskan apapun.
Karena selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) dalam sulaman yg kubuat di otakku
Selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) menjerit-jerit saat kujeruji di ruang gelap
dan selalu ada dia yg melihatku menangis di balkon setiap kali aku berbincang dengan pagi.
ssstttt, jangan bilang-bilang! sebenarnya aku tahu dia mengintipku.

Aku bahkan pernah melihatnya menjadi terlalu naif terhadap kebesaran hati.
Bisa apa aku dgn berbesar hatiku?
Lagi-lagi "aku menunggu" masih terletak cantik dalam :draft: ku
Aku tidak tahu apakah ini namanya berbesar hati? Rela? Apalah namanya.
Pagi tetap memantapkanku untuk tetap berpura-pura dalam terangnya.
Katanya "biarkan nanti saat kau telah berbesar hati, kau ada dalam malam. supaya saat pedihnya kau dapati, kau dapat bermuram bersamanya"

November 25, 2012

48 tahun-nya Bunda

25 November 2012 ,

Selamat ulang tahun Bunda...
Bukan. Bukan 48 tahun yg telah kau lewati. Tapi 48 tahun dengan penuh pasang surut hidup mulai dari ekonomi, percaya diri, kepercayaan, penghargaan dan penghormatan, kebahagiaan, dan seluruhnya. 48 tahun ya? Bukan waktu yg cukup pendek untuk berjuang dalam kehidupan meraih cita baik cita diri sendiri hingga cita orang lain yg sebenarnya kita tidak hendaki. Yaaa, tapi itulah bunda. Meskipun kadang kita harus memberikan dukungan penuh kalau pe-de nya lagi gak oke, tapi berserah diri selalu menjadi pondasi bunda untuk selalu bijak menghadapi tantangan Tuhan.

Sekilas saya membayangkan betapa rapihnya hidup bunda, persis seperti apa yg bunda ajarkan ke- kedua anak gadisnya. Bunda ngga mungkin membiarkan belakang pintu ada baju yg tergantung (ini rahasia kita: padahal di belakang pintu memang terpasang gantungan baju!) , sepatu tidak masuk lagi ke dalam box nya, dan semua hal detail di dalam rumah. Tapi tidak dengan hidup bunda, naik turun hidup seperti biasa tetap hadir di rekaman 48 tahun bunda.

Serangan panik selalu jadi langganan yg menjadikan bunda sasaran empuk, dan saya adalah satu dari dua anak gadisnya yg mewarisi itu. Bangga rasanya menjadi anak dari sosok bunda saya yg ulet, ramah, dan telaten. Bunda saya seorang dosen ekonomi. Bunda kaya bola bekel! apalagi setiap kali mengurusi ini-itu yg berkaitan dengan manajerial kampus. Lagi-lagi bunda tidak pernah ingin merasakan capeknya. Bukti nyata, teh yg bunda bikinkan selalu dengan manis yg pas dan panas yg nyaman.

Sedih rasanya sudah sebesar ini tapi masih belum bisa membanggakan bunda yg kulitnya sudah mulai keriput, kelincahannya sudah kendor bahkan untuk naik tangga sekalipun. Bunda punya banyak anak angkat, mulai dari tetangga, orang lain, bahkan sampai mahasiswanya sendiri. Bunda gemar menyekolahkan (dengan cara apapun bunda membantu) mereka yg sangat mampu namun kurang peruntungan ekonominya. Salah satu semangat bunda ini yg menjadikan gelora saya untuk banyak membantu di LSM yg saat ini sedang saya fokusi. Semoga semangat bunda selalu jadi inspirasi saya untuk terus berjalan sambil menggandeng mereka yg lemah.

48 tahun-nya bunda, semoga bunda diberikan umur yg panjang, kesehatan, keselamatan, kesabaran, rizqi yg tidak semakin menyombongkan kami, senyum yg semakin ikhlas, serta berkah-berkah Tuhan lainnya. I love you, Bunda <3