July 23, 2013

Lepas



Ghaea mungkin sedang akur bareng Neptun
Sama-sama kompak kasih iklim gak sehat buat penghuni-penghuni sangkar
Kemudian mereka melayang-layang. Gak pake kompas.
Yasudah, pakai saja tanda alam seadanya

Kepak.. kepak.. kepak..
Memang resiko meninggalkan sangkar
diluar sana orang-orang masih bilang "jangan ambil resiko di alam liar"
katanya, mending di dalam sangkar. Ruji-rujinya menjaga tetap aman
Disini dingin. Terlalu banyak makhluk-makhluk dengan sesal lalu lalang

Tapi bisa apa kalau Tuhan mau.

Hatimu.
Biarkan lepas.
Entah kemana dia terhempas.

Senyummu.
Biarkan jadi sungging.
Masukkan dalam kotak.
Jangan sekali-sekali dibuka jika tak tepat.

Demi Ghaea dan Neptun.
kapan duka usai?

July 13, 2013

Itu saja

Akhirnya, aku bisa merasakan lagi bagaimana mencintamu tanpa lisan

Dalam luka.

Itu saja.

April 19, 2013

rumah kelak

Kemarin aku bertanya keras tentang rumah. Dimana harusnya ia berada. Kemana seharusnya aku pulang. Dan seperti apa seharunya rumah yang nyaman dan layak lengkap dengan kehangatannya untukku.

Beberapa mereka suka tinggal di rumah yg bertingkat, supaya banyak kamar tidur jika mereka kelak memiliki banyak buah hati. Beberapa lainnya suka yg halamannya luas, supaya anak-anaknya punya tempat bermain, gak melulu ke tempat bermain sempit di banyak pusat perbelanjaan. Sedang yang lain masih bingung dan berdebat sendiri rumah seperti apa yg menjadi rancangan terbaik untuk kehidupan kelak.

Catatanmu yang aku intip pagi tadi cukup bikin aku senyum-senyum sendiri. Bukan bahagia, tapi merasa lucu. Lalu aku sangat lega menertawakan kebodohanku dan matinya logikaku kemarin-kemarin.

Harusnya rumah tidak dicari. Tidak ditinggalkan kalau kita tidak nyaman. Tidak mencari yang baru untuk memastikan hidup kita akan terus nyaman ke depannya. Memilih yang hangat agar kita betah berlama-lama di dalamnya.

Harusnya bukan salah satu mencari rumah atau keduanya saling mencari. Bukan salah satu pemilik rumah, sedang yang lainnya hanya ngontrak. Kemudian berlaku pemilik rumah bisa mengusir karena yang ngontrak kurang ajar, atau yang ngontrak meninggalkan rumah sebelum masa kontrak habis karena rumahnya tak lagi nyaman.

Kalau aku kemarin cukup cerdas dan percaya logikaku untuk beraksi, aku mungkin tak akan kesasar sejauh ini.

Rumah itu dibangun, berdua. Dengan pondasi sekuat komitmen, dan tinggi rumah setinggi menggantungkan angan kehidupan supaya jauh lebih baik. Luasnya seluas maaf yang selalu kita junjung.

March 25, 2013

mencumbu nostalgia

menemukanmu berantakan diantara ruas-ruas serat cendana
bahkan di kayu sekuat itupun kamu masih saja merapuh
seperti aku ingin menggenggam huruf-hurufku layaknya kelopak kembang
kemudian menaburkannya ke tanahmu
matilah kamu, tertanam di masa lalu
melena pada nostalgia yang mereka kira selalu sumringah
lalu dentingnya terhenti di detak jantung yang sama
seakan tak terima pada hurufku yang belum juga menemui titik

pulanglah
rumahmu menyuguhkan banyak kehangatan juga kenangan
yang kita makan hingga tak ada remukan

kalau kamu bertemu senja, jangan berhenti jalan aja terus
atau kamu akan menemui nostalgiamu tergerus
karena senja selalu jadi jagoannya
memandu asmara, membelokkan arah
memang nostalgia menawarkan kuatnya harum tubuhmu (yang sama)
tapi kalau hati ikut beradu dia hanya bisa diam terpaku
maka hendaknya kau jadikan dia agar terpadu
supaya nostalgiamu berikan satu ciuman sendu

satu di hati
satu di logika

bangun!
nostalgiamu tak sesyahdu apa yang digambarkan hatimu.

March 18, 2013

Lelaki (ku)

Lelakiku.
di antara ketangguhannya mengejar kereta setiap pagi dia rela berbagi serpihan letihnya di setiap senja menemui.
Lelakiku.
di atas tingginya semangat dan optimisme asa yang dibangunnya ada patah yang ingin diselamatkan.
Lelakiku.
di bulatnya keangkuhan yang kadang tak bisa ku taklukkan, dia seorang pendoa yang sangat baik.
Lelakiku.
merebahkan setiap kelembutan meskipun setiap saatnya menggenggam kekuatan untuk bertahan dalam kejamnya kota.
Lelakiku.
di sisi egonya yang membara ada manja yang selalu ditunjukkan, cuma butuh cakap hati untuk memeluk hatinya dan menjemput manjanya dengan senyum.
Lelakiku.
di tengah pujian atas kehebatannya, masih saja menyimpan rapat-rapat kebodohan-kebodohannya kala ia bertemu rindu.
Lelakiku.
berjalan pelan, menengadah awan, meletakkan harapannya disana, berlari, kemudian ia terbang, memeluk erat cita yang diraihnya, alhamdulillah.
Lelakiku.
ada jatuh cinta yang selalu baru di pagi ia menikmati seduhan kopiku yang masih saja terlalu pahit, ada ikhlas dan syukurnya untukku disana.
Lelakiku.
berapa banyak syukur lagi yang harus aku persembahkan untuk Tuhan karena menghadirkan lelakiku.
Lelakiku.
aku nikmati keringatnya, menusuk-nusuk bersamaan dengan doaku yang teriring.
semoga engkau, lelakiku, selalu didekatkan dengan kebahagiaan dan kesuksesan.

Lelaki (ku), mengertilah,
mencintai sendiri itu sering menyebabkan kelelahan.
Jadi, apa kau meletakkan dirimu sebagai lelakiku?

March 4, 2013

penetrasi memori

Di hujan kemarin kita menyapa banyak duri-duri yang masih menancap pada tempatnya, memori
Menerpa banyak asa yang sudah tak kuasa kita menyimpannya, akhirnya kita sampai pada kata rela
Sepertinya kita sama-sama di adopsi oleh kenangan yang harusnya sudah kita cukupkan
Dan seperti biasa, pagi berulah mengingatkan apa yang harusnya kita masih perjuangkan
Ternyata lagi-lagi gara-gara pagi
Dengan memori, harus bercumbu asik dengannya atau meronta karena penetrasi yang begitu hebatnya?
Kalau tidak bisa menghidupi mimpi-mimpi lebih baik jangan terpatri
karena mimpi dekat dengan harapan kalau dia terus diberi makan
atau lebih dekat lagi dengan pagi dan semua lagi-lagi hilang karena nyata yg berdikari
Kata-katamu menggelitik geli di belakang telinga.
Katamu, harusnya kita tidak begini kalau saja kita saling menatap dan meresap
Membiarkan rongga terisi harapan-harapan yang hidup
Aduh, lagi-lagi harus dihadapkan memori
Lagi-lagi harus terperangkap menangkapnya dalam dekap dan tak tau harus diapakan ini jadinya

February 28, 2013

Ngelunjak

Sebagai wanita normal aku masih punya hal-hal "kewanitaan" natural. Sensitif, perhatian, khawatir, panik, marah, cemburu, bahkan.... centil.
Tapi beberapa hari ini Gaea sepertinya mengirimkan angin-angin lembut yang membawa kejantanan supaya aku jadi seperti Athena setengah Hercules.
Bim salabim... tadaaa! Say hi to "the realistic" egy. Itu yang aku tulis di milisku kepada teman di Australia beberapa hari lalu.
Ya, aku menjadi wanita yg semakin logis, cuek, dan apa adanya.
Pertanyaannya, kenapa sikap-sikap seperti itu menjadikanku dihujani banyak pertanyaan "kamu kenapa?"
Memang wanita tidak wajar kalau logis dan cuek untuk hal-hal yg tidak seberapa penting?
Oke.. Oke.. si Venus memang cenderung lebih memperhatikan hal-hal detail yang selalu tidak dihiraukan oleh si Mars.

Hoopla! Oke aku kena karmanya di malam tadi. Sebagaimana "natural"nya wanita yang juga punya memori-memori manis, si "aku" juga ingin memiliki mereka lagi. 
Detailnya masih sama, polanya juga tidak berubah, lebih hebatnya lagi yg ini bisa-bisa merubah rencana beberapa tahun ke depan, hebat bukan?
kamu tidak lupa kan aku "sedang" jadi wanita yang logis?
Kemudian angan bertabrakan dengan logika, jadilah doa yang bahkan untuk kuucapkan saja aku takut disangka Tuhan ngelunjak
Aku menulisnya malu-malu sampai kulipat kertasnya rapat. isinya kurang lebih begini:

"God may I ask for your favour to set the role as this : 
Biarkan seorang yang luar biasa ini terlahir sebagai lelaki hebat yang melindungi dengan segala asa dan turut menghalau aralku, yang kau berikan keluasan tanpa batas untuk melakukan itu semua. Tanpa harus ada takut untuk mencinta, segan untuk merindu, dan malu untuk mendamba.
Aku tahu betapa tidak tahu dirinya aku meminta hal sebodoh dan setinggi ini padahal Kau sudah memberikan yg lebih.
Aku pasrah dalam rencanaMu dan bagaimana Kau mengabulkannya. Aku juga ikhlas kalau ternyata yg aku minta ini tidak sesuai dengan apa yg sudah jauh-jauh Kau tulis dulu"

Untuk Tuhan yang pernah menciptakan rasa - mengambilnya - menjauhkannya - menerbangkannya - hingga ia mati di udara dan singgah ke bumi yang (sialnya) menghinggap lagi seperti dulu. Uh!

February 11, 2013

Disana aku masih membiarkanmu tergantung


Langit Frankfurt, 22 April 2009

Aku baru saja mendarat sejak 18 jam lalu meninggalkan kehangatan rumah, sapaan pagi hari ayah ibu dan adik, dan bekas pijakan dasarku disana.
Bergegas menemui guru sekaligus pembimbingku yg sudah duduk di meja penyambutan lengkap dengan bratwurst untuk makan malam kami.
Mataku tertuju pada satu persatu peserta yg mulai meninggalkan bahasa masing-masing sama sepertiku, dan saling berbincang tentang eloknya negara mereka
Laut, pantai, dan tanah kami adalah topik yg selalu aku hadirkan di berbagai perbincangan hangat pada kesempatan apanpun.
Disana aku belajar untuk beradaptasi dengan berbagai cara mereka berpakaian, gesture yang menyebalkan, sampai tatapan mata tajam yg bikin ngamuk.

Langit Frankfurt petang itu seakan menjadi sendratari bagi kerja payahku 3 bulan menjelang keberangkatan.
Bagaimana aku pernah menggantungkan mimpiku tinggi-tinggi disini (dari Indonesia)
Setiap malam aku berusaha menyentuhkan hatiku pada Allah, karena tanpa aku bisikkan sekalipun Ia dapat membacanya.


Di Frankfurt, 4 tahun lalu angin menitipkan salam untukku pagi itu yg sedang berjerih payah mengerjakan soal-soal ujian nasional yg (sementara itu) menjegal aku untuk tidak berdiri di bawah langit tempat aku menggantungkan mimpiku tinggi-tinggi.
Aku ingat betul bagaimana aku memutar filmku sendiri saat harusnya aku berkonsentrasi pada tes kelulusan ini.
Bagaimana roda tiba-tiba berbalik dengan cepat dan semakin menjauhkan aku dari langit tempat mimpiku tergantung.
Bagaimana aku rasanya ingin berontak melihat sesuatu yg sudah ku genggam tiba-tiba sudah tidak ada di genggaman


seperti balon udara berwarna warni di tengah langit senja yang memberikan kontras.
begitulah aku menatap mimpiku sedang dijunjung langit yg tinggi, terlihat sangat jelas diantara redupnya senja.
biarkan mimpiku memiliki warna bahkan cahayanya sendiri, bukan bercahaya karena bias dari teriknya siang, buktinya ia tetap terlihat jelas meskipun sedang tak ada matahari di baliknya.
kalaupun saat itu aku sudah menaiki balon udaraku, mungkin saja angin belum membawaku ke langit Jerman atau sedang tidak memungkinkan untuk menjemputnya.




di Langit Frankfurt, aku masih menggantungkan mimpiku melayang disana.
Menjadi tujuan dari lajur berlariku.
Menjadi kontras saat senjaku, agar aku masih bisa tetap menatapnya.
Biarkan menjadi doa-doaku yg dekat dengan Allah.
Dan menjadi bahagiaku saat aku dapat menjemputnya.
Amin


February 9, 2013

Bahagiamu jawaban doamu

"Jadilah pasanganku di pelaminan dan pendampingku selamanya di sisa hidupku"

Siti akhirnya menjadi wanita pada fasenya.
Pulang ke pelukan ayahnya lalu menceritakan lelaki yang berani-beraninya membuat nafasnya tersengal.
Ayahnya tersenyum bangga, "Anakku wanita yang pandai memantaskan dirinya untuk laki-laki hebat itu"
Dalam beberapa kilo ke arah selatan lelaki sedang duduk disamping ibunya
"Sudah kunyatakan itu pada wanita yg kucintai, yg juga menyayangi ibu, menjaga adikku, dan menjunjung tinggi diriku, sesuai dengan permintaan ibuku"

February 8, 2013

Day 1: eksplanasi hati



Kita ini kadang suka menjadi wayang yang dalangnya juga kita sendiri.
Kemana saja selama ini cerita yang begini akhirnya.
Yasudahlah.
kita sudah menjadikan diri kita sebagai titik tujuan untuk jadi pemberhentian, bukan persinggahan.
Toh peluk kan selalu berpulang ke pundak yang tepat.
Lalu percayaku kini menjadi rasa yg memenuhi relungmu.
Kereta-kereta juga berhenti sekedar untuk menurunkan banyak restu dari Tuhan
Gemuruh yang kutabuh rupanya sudah membangunkan dewa-dewimu
Ramai-ramai berkeliling mengitar sambil menabur bunga
Harumnya semerbak memulangkan rindu tepat pada waktunya.
Meletakkan rasa juga tepat pada ruangnya
Menyisipkan doa untuk dijunjung murninya.
Ternyata pundakku tempat peluk-pelukmu berpulang.
Bagaimana lengan saling mendekap erat dan jemari menari lembut, sepasang mata juga terpejam tenang saat itu.
Kemudian biarkan semesta menyungging senyum untuk itu.
Meluap-luapkan bahagia, namun biarkan sewajarnya.
Karena masih ada kerikil yang harus dibereskan di jalan kita nanti.

December 25, 2012

Berpamitan

Sudah lama aku singgah di rumah yg tidak berpenghuni, usang dimana-mana.
Ceritapun sudah tamat dan menua menjadi debu
Sang empunya rupanya masih belum ingin nyaman menjadi pacar si rumah.
Jadilah rumahnya dibiarkan mengusang.
Kalau mampir, atau menjadi penghuni ya silahkan, kalau tak minat ya jangan dilihat.
Memang harus sabar meniti satu persatu debunya, harus telaten setiap hari.

Aku pamit sore itu.
Karena aku punya sesak napas dan alergi debu.
Apalagi debu yg tak pernah selesai tapi tetap selalu menyesakkan.

December 17, 2012

Pulang ... Pulang ... Pulang ...

Kudapati ia menganga dengan lebarnya juga ikut menyebarkan rona.
Mungkin itulah mengapa aku masih mendamba, karena ia tak ada disini untuk bersenggama dengan tawa.
Aku masih rutin menatap tanggal yg sama bahkan saat kita memiliki dimensi yg berbeda.
Dan setelah aku menyelesaikan spaghetti di hari mingguku aku masih juga menengok ke depan rumah.
Lihat, ini kan rumah yg pernah menjadi ingin kita. Di pesisir, dengan anggrek gantung berwarna ungu. Dua kursi berhadapan dan latar yg cukup lega jika anggota kita bertambah, bukan ? :)
Aku rasa tak perlu aku bersumpah sungguh untuk menyampaikan rindu.
Ini bukan hal kecil, ini besar sekali.
Dia meloncat-loncat dan akan segera tumpah.
Dimana aku harus menampungnya saat gelasku tak lagi bisa.
Kalau aku bisa menaruhnya di saku celanaku aku pasti akan membawanya kemana saja.
Namun kenapa disanapun juga tak ada celah?

Tuh kan, aku sudah bilang. Jangan membekaskan apapun kalau kau pergi.
Biarkan aku tetap menjaga rumahmu berteman angin pantai dan dengkuran ombak-ombak saat bermalasan di tengah hari.
Kemudian aku menuliskan huruf-huruf yg sengaja tidak aku rangkai.
Menggenggamnya dalam kepalan dan menebarkannya di tepi laut.
Nanti ada kehendak Tuhan yg merangkai huruf-hurufku.
Juga biar menjadi tugas Tuhan untuk menyampaikannya pada siapa. Bisa jadi bukan kau.
Aku masih belum berani menulis surat untuk kutitipkan pada hujan sore nanti.
Maafkan jika rindu masih menjelma menjadi butiran rasa saja.

Pulanglah, akan kutumpahkan semuanya.

Cukupkan dengan harap

Malam tadi malaikat mampir di atas kelambuku. 
Ya, dia membawa serta catatannya untuk dipamerkan. Mungkin batinnya aku akan menanyakan telah seberapa bagus dia mencatat aku. 
Sempat aku hampir keceplosan untuk menanya kita.
Namun lagi-lagi kamu membuat aku sesak tentang aku.
Biar aku selesaikan dulu urusan mendebarkasikan harap.
Semoga malaikat tidak mencatatat seberapa besar harap yang kamu punya.
Karena sampai saat pagi mendesah lembut di balik telinga, aku masih percaya akan harapan.
Entah apakah itu masih kau simpan rapat atau telah dinikmati debu-debu kamarmu sebagai dongengnya karena ia telah mengusang.
Itulah mengapa malam selalu rutin membuka jendelanya agar malaikat bisa menyisip dalam lengahku.

Kalaupun ia mencatatat, semoga ia tak berniat untuk membocorkan rahasia itu ke aku.
Percaya masih menjadi satu kata yg terucap dengan artikulasi cukup jelas.
Meskipun dengan notasi yang kembang kempis sama seperti saat aku mencari-cari kemana harapanku.
Dan sampai pagi datangpun, harapan masih juga menjadi tumit dimana percayaku berinjak.

December 4, 2012

Menunggu malam

Pagi mengajakku berbincang di balkon kecil rumahku.
Ia bercerita banyak. Hingga akhirnya ........
"Lalu, apa kabar tentang belajar berbesar hatimu?," celetuknya tanpa menggubris sedang apa lukaku saat ini karena ucapannya.
Aku pernah lupa bahwa aku harus belajar berbesar hati.
Sempat aku bersemangat, namun semangatku tiba-tiba mengarang, terbakar, dan terbang menjadi abu sombong yg bahkan sempat lewat di pipi.
Aku pernah sombong dengan tekadku untuk berbesar hati.
Tapi badut-badut itu selalu mampir ke balkonku untuk bercerita 'aku-dia'
Aku pernah kuat berdiri menginjak tekad di bawah telapak
Selalu ada yg melemaskan tungkakku.

Karena selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) di setiap sentimeter aku beranjak.
Cangkir kopinya yg masih terpajang rapi bersebelahan dgn milikku.
Tali sepatunya yg lepas sebelah dan menyelip di bawah meja televisi.
Atau mungkin jaket kulitnya yg masih tergeletak di kursi makan.
Setelah kita berkecamuk dgn marah malam itu, aku tidak membereskan apapun.
Karena selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) dalam sulaman yg kubuat di otakku
Selalu ada 'aku-dia' (bukan lagi kita) menjerit-jerit saat kujeruji di ruang gelap
dan selalu ada dia yg melihatku menangis di balkon setiap kali aku berbincang dengan pagi.
ssstttt, jangan bilang-bilang! sebenarnya aku tahu dia mengintipku.

Aku bahkan pernah melihatnya menjadi terlalu naif terhadap kebesaran hati.
Bisa apa aku dgn berbesar hatiku?
Lagi-lagi "aku menunggu" masih terletak cantik dalam :draft: ku
Aku tidak tahu apakah ini namanya berbesar hati? Rela? Apalah namanya.
Pagi tetap memantapkanku untuk tetap berpura-pura dalam terangnya.
Katanya "biarkan nanti saat kau telah berbesar hati, kau ada dalam malam. supaya saat pedihnya kau dapati, kau dapat bermuram bersamanya"

November 25, 2012

48 tahun-nya Bunda

25 November 2012 ,

Selamat ulang tahun Bunda...
Bukan. Bukan 48 tahun yg telah kau lewati. Tapi 48 tahun dengan penuh pasang surut hidup mulai dari ekonomi, percaya diri, kepercayaan, penghargaan dan penghormatan, kebahagiaan, dan seluruhnya. 48 tahun ya? Bukan waktu yg cukup pendek untuk berjuang dalam kehidupan meraih cita baik cita diri sendiri hingga cita orang lain yg sebenarnya kita tidak hendaki. Yaaa, tapi itulah bunda. Meskipun kadang kita harus memberikan dukungan penuh kalau pe-de nya lagi gak oke, tapi berserah diri selalu menjadi pondasi bunda untuk selalu bijak menghadapi tantangan Tuhan.

Sekilas saya membayangkan betapa rapihnya hidup bunda, persis seperti apa yg bunda ajarkan ke- kedua anak gadisnya. Bunda ngga mungkin membiarkan belakang pintu ada baju yg tergantung (ini rahasia kita: padahal di belakang pintu memang terpasang gantungan baju!) , sepatu tidak masuk lagi ke dalam box nya, dan semua hal detail di dalam rumah. Tapi tidak dengan hidup bunda, naik turun hidup seperti biasa tetap hadir di rekaman 48 tahun bunda.

Serangan panik selalu jadi langganan yg menjadikan bunda sasaran empuk, dan saya adalah satu dari dua anak gadisnya yg mewarisi itu. Bangga rasanya menjadi anak dari sosok bunda saya yg ulet, ramah, dan telaten. Bunda saya seorang dosen ekonomi. Bunda kaya bola bekel! apalagi setiap kali mengurusi ini-itu yg berkaitan dengan manajerial kampus. Lagi-lagi bunda tidak pernah ingin merasakan capeknya. Bukti nyata, teh yg bunda bikinkan selalu dengan manis yg pas dan panas yg nyaman.

Sedih rasanya sudah sebesar ini tapi masih belum bisa membanggakan bunda yg kulitnya sudah mulai keriput, kelincahannya sudah kendor bahkan untuk naik tangga sekalipun. Bunda punya banyak anak angkat, mulai dari tetangga, orang lain, bahkan sampai mahasiswanya sendiri. Bunda gemar menyekolahkan (dengan cara apapun bunda membantu) mereka yg sangat mampu namun kurang peruntungan ekonominya. Salah satu semangat bunda ini yg menjadikan gelora saya untuk banyak membantu di LSM yg saat ini sedang saya fokusi. Semoga semangat bunda selalu jadi inspirasi saya untuk terus berjalan sambil menggandeng mereka yg lemah.

48 tahun-nya bunda, semoga bunda diberikan umur yg panjang, kesehatan, keselamatan, kesabaran, rizqi yg tidak semakin menyombongkan kami, senyum yg semakin ikhlas, serta berkah-berkah Tuhan lainnya. I love you, Bunda <3

November 23, 2012

Bicara Hati

Pagiku lenyap, tertahan gelap yg masih menemani.
Aku ingin bersembunyi! Setidaknya menyimpan pedihku dalam-dalam
Aku kemarin berlari terlalu kencang. Bahkan hingga tidak seirama dengan nafasku
Aku kemarin terlalu menengadahkan kepala, hingga urat di leherku begitu letih.
Aku kemarin terlalu bergembira dengan balon yg berwarna-warni
Ternyata saat ia meletus kulit di pipiku juga ikut nyeri

Bicara hati.

Kata jarum detik jam, ia tidak menunggu siapapun untuk terus bergerak.
Begitu juga aku, aku bukan siapa-siapa yg bisa membuat jarum jam rela berhenti sejenak.
Terlalu banyak kesempatan jika ia berhenti bergerak.
Meskipun harus naik-turun, jarum tetap bergerak. Lagi, tidak menunggu siapapun.

Bicara hati.

Sudah berapa banyak waktu yg aku siakan? Andaikan aku bisa menghitungnya dengan pasti.
Mungkin hanya untuk sekedar bermain hujan atau lari-lari kecil melewati rumah mewah di sudut jalan.
Sudah berapa banyak kesempatan yg aku biarkan duduk manis di dalam box nya?
Aku sudah sempat mengintipnya sendiri di dalam box itu, tapi ah sudahlah toh aku sedang tidak membutuhkan.
Sudah berapa banyak "ah sudahlah" yg aku ciptakan?

Bicara hati.

Sudah saatnya aku bicara tentang hati.
Yg selama ini pilu dengan penyesalan-penyesalan.

Aku bicara dengan hati, kata hati "bahkan waktupun tidak menunggu aku untuk sembuh terlebih dahulu"

Mencaci Tuhan



Kalau tren orang-orang sekarang adalah "hidup tak semudah kata pak mario teguh" tapi mereka ikut-ikutan banyak quote-ing hal itu, saya lebih suka untuk belajar sendiri tentang naik-turunnya hidup. Mungkin juga naik-turunnya mood Tuhan untuk kasih saya happiness. No! Jangan sekali-sekali menyalahkan Tuhan, Dia tahu yg terbaik.

Saya sedang sibuk membaca agenda harian saya yg mungil ini. Pekerjaan yg mengharuskan saya menyelesaikan analisis dalam waktu kurang dari seminggu, lalu menggarap concept paper nya. Tugas akhir studi (kata gaulnya: skripsi) juga melambai-lambai cantik sedari kemarin. Belum lagi adik-adik asuh yg menunggu kami di penampungan kumuh itu. Menyenangkan sekali punya banyak kegiatan yg mengisi buku agenda saya setiap harinya.

Bukan berarti biasanya saya tidak seperti ini tapi entah kenapa kegiatan akhir-akhir ini begitu membuat saya membuka hati seluas mungkin. Saya sadar banyak diantaranya saya lakukan untuk orang lain. Kata ayah saya, Tuhan memang menghadiahkan hidup ini untuk kita tapi bukan berarti hidup kita habiskan untuk kita sendiri. Ya, kata-kata itu yg selalu jadi semangat saya untuk terus bangkit bahkan di saat pesimisme sangat melekat di diri saya. 

Saya pernah seperti ini sekitar 5 tahun lalu. Patah hati, haha. Sudah bukan saatnya untuk itu di umur saya yg sudah berkepala 2 ini. Tapi Tuhan selalu menyiapkan hal yg satu ini agar kita tidak menyepelakan cinta-cinta yg dihadirkannya lewat ornag-orang yg begitu dekat dengan nafas kita. Tuhan juga tidak kehabisan akal untuk menaik-turunkan kepercayaan kita akan-Nya.

Sempat, dalam beberapa minggu lalu saya pernah mencaci Tuhan dalam batin. Tidak, saya tidak berani berkata-kata takut kualat. Saya bilang "Saya tidak menemukan jalan pulang, Tuhan." tapi lagi-lagi Tuhan punya cara untuk menjawab bahkan untuk cacian tak bermutu itu sekalipun. Mencaci itu tidak enak saudara! seperti gersang dalam dingin yg teramat sangat, bisa-bisa hipotermia jika terus-terus dibiarkan. Ternyata disaat saya seperti ini, Tuhan mungkin sedang rindu saya. Tuhan ingin mendekap saya begitu erat. Lalu saya beranjak, bergegas ke pancuran kecil mengambil air suci lalu berlama-lama dalam sujud.

Kerinduan selalu membuat batin semakin terjepit, disitulah keeratan dapat mendekap dengan penuh lalu kemudian menjadi tameng diri supaya tidak dibutakan rindu yg melumpuhkan.
Rindu dengan siapa malam ini?

November 2, 2012

pulang kemana?

Di kecup terakhir kemarin aku secara sengaja menuangkan aroma kopi pekat agar beradu satu hingga menjadi candu.
Aku sudah pernah bilang, jangan pernah mengunci pintu lalu membiarkan aku sendiri di dalam rumah.
Rumah ini sudah terlalu usang, paling tidak berikan aku biji-biji kopi untuk bisa kunikmati ia bersatu di lubuk ketenangan.
Lagi lagi kau lupa mendengar.
Suatu pagi kau buka pintu rumah saat kau akan pergi, aku pasti menyelinap keluar.
Itu tanda aku meronta.
Paling tidak aku akan pergi mencicipi hujan kecil-kecil di luar sana.
Aku terlalu riang untuk hanya sekedar duduk sambil ujung jari kakiku menempel pada sarang laba di pojokan.
Ternyata hujan kecil-kecil mampu memberikan sejuk untuk ujung mataku.
Lalu aku pergi setiap pagi.
Terima kasih untuk rumah yg cukup nyaman aku tinggali dan hangat yg menyelimuti.
Aku tidak lagi jatuh cinta pada musim panas. Karena mungkin dia sudah pergi.
Aku akhirnya melayangkan maaf-maaf di setiap kali kau memintaku untuk iba
Tuhan mau apa? Biarkan Tuhan terus menulis skenarionya sambil kita menari-nari sendu dibawah lampu temaram di ujung desa.
Tuhan, jika aku adalah orang yg memberi sakit maka Kau pasti yg memberi kesembuhannya.
Pagi itu.... kecup terakhir saat sebelum aku bermain dengan hujan kecil-kecil.

October 10, 2012

Ah, Perempuan


Sebagai perempuan aku juga tidak paham mengapa kami membentuk sifat-sifat berikut ini. Bukan diciptakan dengan sifat-sifat seperti ini. Tuhan tidak pernah menciptakan sesuatu yang buruk bahkan hingga sifat perempuan sekalipun. Bahkan perempuan sering digambarkan sebagai keelokan yang mampu menyentuh, membangkitkan, atau bisa jadi menjerumuskan. Sering kali setelah mematikan laptop aku kemudian menelisik bayang-bayang pantulan diriku di layar. Susah sekali menemui bekas jerawat di dagu yang biasanya sangat nampak jika bercermin pakai kaca di atas wastafel. Noda itu terus bermain-main dengan bersembunyi. Harus dengan sudut dan posisi yang tepat untuk menemukannya. And, Gotcha! Ujung jari telunjukpun ikut caper dengan menyenggolnya sedikit. Cuma syarat.

Mungkin seperti itu bagaimana aku mencoba mengenali "keperempuan" di diriku dengan sifat-sifatnya yang terbentuk (bukan diciptakan). Aku harus menelisik ke dalam diri namun kadang buyar saat percaya diri mulai meninggi. Oh perempuan, mengapa kau begitu sensitif dan mudah terluka. Mungkin karena perempuan terlalu banyak menyimpan detail. Detail bau badan kekasih, sepatu lusuhnya, t-shirt dengan warna yang kumel, hingga rambut-rambut di bawah hidung dan di dagu yang mulai menebal. Detail-detail adalah kegemaran perempuan, tidak ingin melewatkan sekecil darinya yang nampak. Kuteknya tidak merata - aceton bekerja. Beberapa helai rambut tidak ikut terikat - sisir bekerja kembali. Begitulah detail yang ingin selalu dicatatnya.

Perasaan amburadul bisa jadi akibat dari terlalu memperhatikan setiap detail itu. Sudah tau kalimat-kalimat itu akan menjadi sangat menyebalkan, mengapa masih terus menelusur huruf demi hurufnya? Ah, perempuan. Aku tidak begitu tahu apakah "melankolis" juga termasuk sifat yang terbentuk (bukan tercipta) untuk perempuan. Berlama-lama bersedih lalu bangkit dan menertawakan masa-masanya sendiri saat merangkak ringkih. Ah, perempuan.

Kata mereka inilah ciptaan Tuhan yang nantinya akan dipasangkan Tuhan dengan dia-dia yang kokoh bak prajurit dengan dada membusung dan kantong busur panah digenggamnya dengan kuat. Lelaki. Kata mereka, lelaki yang kuat diciptakan untuk melindungi perempuan yang lemah. Ah masa iya? Kalau boleh aku memilih yang berperan sebagai penunggang kuda dan membawa tameng. Menurutku kami (perempuan) tidak (selalu) sepihak dengan kelemahan, begitu juga lelaki tidak (selalu) sepihak dengan kegagahan. Mungkin maksud Tuhan adalah menciptakan kami (perempuan dan lelaki) untuk saling menguatkan. Bagaimana dengan harus menjadi kuat seorang diri bagi perempuan?

Mungkin beberapa kali Tuhan menguji kami-kami sebagai perempuan untuk bangkit dengan sendiri meskipun dengan ringkih dan masih mengusap luka yang masih basah. Mungkin beberapa kali Tuhan mempertemukan kami dengan balon-balon cemburu yang tidak tahu harus diapakan. Lepaskan supaya ia pergi dan mengempes sendiri di udara. Atau memegang talinya erat dan diikatkan di pegangan pintu seperti yang biasa ku lakukan masa kecil lalu menjadikannya hiburan. Ataukah harus kami letuskan hingga suaranya memekakkan telinga? Ah perempuan.

Tidak masalah jika kami harus berdiri sendiri meskipun Tuhan melihat betapa ringkihnya kami saat terjatuh. Toh yang bermasalah adalah mereka-mereka yang tidak pernah yakin akan Tuhan dan tidak tahu dimana harus bersandar. Tidak masalah jika ketegaran juga harus kami cari di dasar oase asalkan berkeyakinan Tuhan akan selalu ada.

Sudah tidak jamannya menunggu prajurit gagah berani datang untuk memapah! Sekarang saatnya memiliki tamengnya sendiri. Sekarang saatnya melepas detail-detail yang kiranya akan mengganggu pulasnya malam nanti. Sekarang saatnya mengaudisi mana-mana detail yang harus disimpan dalam-dalam untuk kamu baca-baca saat tubuhmu mulai menggigil dan kopi malam menemani hingga larut. Sekarang saatnya bertindak pada balon-balon cemburu pemberian Tuhan yang selama ini diacuhkan.

Ah, perempuan.

October 9, 2012

tidak pernah sunyi akan doa dan syukur

Labbaik Allahumma Labbaik ..


Masih pekat di ingatan, 2007 lalu aku mengantarkan ayah mengantri di Bank Daerah Jawa Timur.
Selepas pulang sekolah aku dibonceng ayah menuju bank pembangunan daerah ini.
Antrian yang sesak membuat hem putih-ku lusuh. Berkali aku memerhatikan nomor antrian di depan teller bank. Berganti ... berganti .... dan masih menanti ...
Di depan teller ayah menyerahkan beberapa lembar untuk menjadi tabungan haji ayah dan bunda..
Ayah dan bunda rajin menyisihkan sedikit demi sedikit uang jerih payah mereka untuk melengkapi kewajiban biaya ibadah mereka ini.

Juni 2012
Ada surat di atas meja makan kami. Di atas kop surat disebutkan si pengirim adalah dari Departemen  Agama Provinsi Jawa Timur. Setelah shalat maghrib aku mengintip ayah sedang membuka surat tersebut.
Beliau berlari ke surau yang ada di rumah kami, bersujud di atas sajadah shalatnya.
Subhanallah.. ayah dan bunda insya Allah akan menunaikan haji tahun ini kak, begitu kata beliau.
Setelah itu mereka berdua sibuk untuk mencari ilmu mengenai ibadah haji di KBIH yang cukup profesional dan membimbing calon jemaah dengan sabarnya. Bapak Molik, Ketua yayasan KBIH tempat kedua orang tuaku diberi pelayanan yang Subhanallah luar biasa.
Alhamdulillah.. Mereka semakin mantap berbekal ilmu-ilmu yang telah diberikan.

19 September 2012
Malam itu kami semua menggelar doa bersama yang dihadiri saudara-saudara dan tetangga untuk kedua orang tua kami yang akan berangkat dalam 3 hari ke depan.
Setelah 5 tahun menunggu, yang tidak hanya menunggu tapi menahan rindu begitu dalam dan berlatih bersabar untuk menjemput panggilan-Nya.
Semua urusan administrasi sudah beres. Alhamdulillah saudara-saudara dan seluruh rekanan kedua orang tuaku selalu membantu. Allahuakbar kedua orang tuaku insya Allah adalah orang-orang yg bermanfaat karena 24 jam dalam 3 hari tersebut kami terus menerus menerima tamu yang mendoakan keduanya sebelum keberangkata.


Tepat pada tanggal 24 September pukul 00.00 lalu mereka terbang menuju Jeddah
Hari demi hari dilaluinya dengan tangis bahagia, sujud syukur dan mohon ampun, menyeru-serukan kebaikan Allah akan kasihNya. Mereka berdua bercerita dengan penuh haru dan syukur setiap kali aku dan adik menelepon (biasanya setelah shalat isya kami menelepon beliau berdua).

Ayah. aku dan adik berkali-kali menanyakan kabarnya. Kesehatannya.
Beberapa hari sebelum berangkat ke tanah suci beliau melakukan operasi pengangkatan benjolan di telapak kakinya.
Aku ingat betul bagaimana ayah tertatih berjalan sesekali menggigit bibir bawahnya.
Merasakan pedih dan nyeri jahitan di telapaknya. Apalagi saat berpindah dari Madinah ke Mekkah seperangkat obatnya tertinggal. Yaa Allah Yaa Rahim berikan kasih-Mu dan penyembuhan-Mu bagi beliau.
Bunda selalu sehat dan semakin bersemangat. Susah menemukan sayuran disana kata beliau yang selalu rajin makan sayur. Tapi Alhamdulillah zat apapun yang diberikan Allah dalam setiap butir makanannya selalu menguatkan untuk melakukan semua kegiatan ibadah.

Yaa Allah Yaa Waliy Yaa Raqib berikanlah perlindunganMu untuk beliau berdua.
Amin